Alangkah lucunya kakek itu

Kemarin (28/12/2010) saya di suruh ibu buat beli obat bapak ke apotek  terdekat. Lalu ada sedikit pembicaraan antara kakek tua dan apoteker yang menurut saya lucu.

Kakek : Neng bade meser ieu. (mba mau beli ini) (sambil si kakek memperlihatkan secarik kertas bertulisan daftar belanjaannya obatnya.)

Apoteker : Pak anu ieu mah ayana kayu putih merek A sanes merek B da ieu dinu tulisana merek B. (pak adanya juga  kayu putih merek A buka merek B, disni tulisnnya merek B)

Kakek : Anu aya weh neng, bapak tos mapay ti ditu nepi ka dieu teu aya wae, meserna anu dua weh(yang ada aja mba, bapak udah keliling dari sana ke sini gak ada aja, belinya yang dua saja) (di tulisan kertas itu terdapat tulisan obat pegel-pegel berjumlah 2 buah)

Apoteker : Ai ieu bapak gaduh harga obat timana pak ? (kalo ini bapak punya harga obat ini dari mana pak? ) (apoteker sambil menunjuk kertas bawaan bapak yang bertulisakan obat pegel-pegel)

Kakek : Ti ditu neng ti apotek anu sanes. (dari sana mba dari apotek yang lain)

Apoteker : Jadi bapak bade meser obat ieu? (jadi bapak mau beli obat ini?) (sambil apoteker menunjuk kan obat pegel- pegel berjumlah 2 buah itu)

Kakek : Muhun neng meser anu dua, da anu hiji mah atos aya. (iyah mba yang dua kalo yang satu mah udah ada.)

Lalu apoterker itu menghitung  jumlah yang harus di bayar oleh si kakek, sewaktu mau membungkusnya c kakek mengeluarkan obat pegel -pegel dengan merek yang sama berjumlah 2 buah agar di bungkus bersamaan dengan kayu putih yang telah di belinya.

Apoteker : pak ieu tos aya obat anu dua mah? naha meser deui? (pak ini obat yang dua udah ada? kenapa beli lagi?)

Kakek : enya atos aya neng pan tadi bapak nayarios meres anu dua, sanes anu hiji. (pan tadi bapak udah bilang beli yang dua bukan yang satu) (sambil si kakek ini menunjukan kalo yang satu itu obat pegel – pegel karena ditulisan kertas miliknya di tulis satu baris, sedangkan kayu putih di tulis dua baris karena kepanjangan).

Apoteker pun tertawa (termasuk saya :D), sembari menjelaskan kalo itu bukan jumlah obatnya tapi jumlah baris tulisannya, (maklum sepetinya kakek tua ini buta huruf dan tulisan) dan si kakek mengerti sambil tersenyum dengan wajah malu dan “polos” nya.

 

Cerita ini lucu bukan karena mentertawakan “kebodohan” sang kakek, tetapi lucu karena kepolosan sang kakek itu. *cheers*

best regards arie.widiaputra

1 comment
  1. yg muda harus ngalah..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: